Kota Malang terus berubah,
pembangunan yang akhirnya membuatnya semakin berkembang tak terelakkan.
Dinginnya Kota Malang yang tak lagi sama dengan dahulu, sekarang hanya
bisa menikmati dinginnya hingga pukul 10 pagi (namun pada
Agustus-November sampai siang pun Malang tetap dingin), selepas itu
cukup panas dan membuat berkeringat, Anda bisa menikmati lebih dingin
lagi selepas senja mulai turun.
Perubahan ini tentu membuat kita sangat
merindukan ‘Malang-yang-dahulu’ dan selalu mengungkapkan bahwa Malang
tak seperti yang dahulu, wajah Malang tak lagi sama, dan lagi-lagi
setiap orang banyak yang berharap mengembalikan suasana Kota Malang
seperti dahulu.
Meskipun harapan tersebut sukar terjadi,
Anda tetap bisa bernostalgi dari foto-foto di bawah ini, wajah pusat
Kota Malang pada tahun 90-an.
Gereja Hati Kudus Yesus
Selengkapnya.
Jalanan yang ada di kawasan Basuki Rahmat
ini tampak lenggang, jarang kendaraan umum. Bahkan di sekitar Gereja
Hati Kudus Yesus bangunan masih rendah, tak ada bangunan tinggi yang
menyamai tinggi gereja yang sering disebut Gereja Kayutangan ini.
Sedangkan wajah wilayah ini pada era 2000-an:

Dengan tempat foto yang sama suasananya
jauh berbeda, di sebelahnya telah ada bangunan-bangunan modern dan pusat
perbelanjaan. Jalanan pun sangat ramai.
Toko Oen dan Gramedia

Lenggangnya jalanan membuat dulu kita
sangat nyaman untuk menghabiskan waktu di jalanan Kota Malang. Di
sebelah kiri Toko Oen (di foto) terdapat Gramedia yang masih berlantai
satu. Namun saat ini banyak mengalami perbedaan:

Gramedia Basuki Rahmat telah berlantai
dua dengan bangunan yang akhirnya mengalahi tinggi dari Toko Oen,
sedangkan Toko Oen masih terus dengan bangunan yang lama. Jalanan pun
telah dibatasi, tak lenggang seperti foto di tahun 90-an.
Sarinah Plaza

Ya, ini lah wajah Sarinah tempo doeloe!
Begitu berbeda dengan yang sekarang, bangunannya masih kubus dengan
dominasi warna merah bata dan putih. Jalanan begitu lenggang dan terasa
sepi. Mari kita lihat bagaimana Sarinah pada tahun 2000-an.

Begitu banyak perubahan bukan?
Bangunannya tinggi dan tidak lagi kubus dengan dominasi warna merah bata
dan putih. Dahulu Anda sering menghabiskan waktu di Sarinah dengan apa?
Belanja baju atau yang lain?
Gereja Immanuel

Dengan warna angkutan umum yang memang
selalu biru, pepohonan yang besar dan memenuhi kota Malang dan jalanan
yang lenggang memang menjadi bagian yang selalu di rindukan. Namun ada
yang perlu kita syukuri, karena pemerintah Malang masih terus menjaga
bangunan-bangunan yang legendaris, salah satunya Gereja Immanuel (dan
gereja lain serta bangunan lainnya), gereja ini pun masih memiliki wajah
yang sama, lihat foto di bawah ini:

Bangunannya hampir tak ada bedanya dengan
foto sebelumnya, semoga pemerintah Malang terus menjaga tempat-tempat
legendaris seperti ini, ya!
Hotel Pelangi

Tempat pemberhentian angkutan umum atau tempat ‘nge-tem’ masih tetap di sana, di dekat Hotel Pelangi. Bagaimana wajah jalanan ini yang lebih baru?

Ya, tak banyak yang berubah! Bahkan hanya jalanannya saja yang penuh.
Pasar Besar

Tak banyak yang berubah juga dari Pasar Besar Malang, bangunannya yang baru pun seperti ini:

Namun perbedaan yang paling kontras
adalah macet yang ada di Pasar Besar setiap siang tak ada ujungnya,
selalu ramai dipenuhi kendaraan bermotor.
Itu lah wajah pusat kota Malang pada
tahun 90-an, tempat mana yang berkesan bagi Anda? Meski banyak perubahan
di pembangunan, namun masih ada spot-spot kota Malang yang masih
terjaga. Semoga seiring berjalannya waktu, Malang tak akan berubah
sepenuhnya, setidaknya bisa menjadi wadah bagi kita yang ingin
bernostalgi dengan Malang Tempo Doeloe.

0 komentar:
Posting Komentar